Ihsan di dalam beribadah kepada Allah
Ihsan di dalam beribadah kepada Al-khaliq memiliki dua tingkatan
[2]:
- Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, ini adalah ibadah dari seseorang yang mengharapkan rahmat dan ampunan-Nya. Nama lain dari perbuatan ini disebut Maqam al-Musyahadah (مقام المشاهدة).[3]
Dan keadaan ini merupakan tingkatan ihsan yang paling tinggi, karena
dia berangkat dari sikap membutuhkan, harapan dan kerinduan. Dia menuju
dan berupaya mendekatkan diri kepada-Nya. Sikap seperti ini membuat
hatinya terang-benderang dengan cahaya iman dan merefleksikan
pengetahuan hati menjadi ilmu pengetahuan, sehingga yang abstrak menjadi
nyata.[3]
- Jika kamu tidak mampu beribadah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu,
dan ini ibadah dari seseorang yang lari dari adzab dan siksanya. Dan
hal ini lebih rendah tingkatannya daripada tingkatan yang pertama,
karena sikap ihsannya didorong dari rasa diawasi, takut akan hukuman.
Sehingga, dari sini, ulama salaf berpendapat bahwa, "Barangsiaa yang beramal atas dasar melihat Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka dia seorang yang arif, sedang siapapun yang bermal karena merasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka dia seorang yang ikhlas (mukhlis)."[3]
Maka suatu ibadah dibangun atas dua hal ini, puncak kecintaan dan kerendahan, maka pelakunya akan menjadi orang yang
ikhlas kepada Allah. Dengan ibadah yang seperti itu seseorang tidak akan bermaksud supaya di lihat orang (
riya'), di dengar orang (
sum'ah)
maupun menginginkan pujian dari orang atas ibadahnya tersebut. Tidak
peduli ibadahnya itu nampak oleh orang maupun tidak diketahui orang,
sama saja kualitas kebagusan ibadahnya.
Muhsinin (seseorang yang berbuat ihsan) akan selalu membaguskan ibadahnya disetiap keadaan.
Komentar
Posting Komentar