MACAM-MACAM HUSNUDZAN

B. MACAM-MACAM HUSNUDZAN

Secara garis besar Husnudzan dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu husnudzan kepada Allah SWT, husnudzan kepada diri sendiri, dan husnudzan kepada manusia.

  1. Husnudzan kepada Allah SWT

    Husnudzan kepada Allah SWT, berarati selalu berprasangka baik kepada Allah SWT. Jika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah SWT maka buruklah prasangka Allah SWT pada orang tersebut. Pada hakikatnya, apapun yang kita alami terhadap cobaan yang diberikan Allah SWT, kita harus berbaik sangka. Karena semakin sayang Allah SWT kepada hambanya, maka semakin besar pula cobaan yang diberikan oleh Allah SWT. Perilaku husnudzan kepada Allah SWT adalah perilaku syukur dan sabar.                                                                                       
  2. Husnudzan kepada diri sendiri 

    Husnudzan terhadap diri sendiri berarti berprasangka baik kepada diri sendiri. Menerima apa adanya serta berbaik sangka kepada Allah SWT tidak menyesali keadaan dan keberadaannya. Adanya berbagai cobaan misalnya, miskin, cacat, sakit, dan sebagainya kita harus tetap bersuyukur kepada Allah SWT yang telah mencipkan sebaik-baiknya makhluk. Sikap yang menunjukkan husnudzan kepada diri sendiri antara lain gigih, berinisiatif, dan rela berkorban.                                                                                                                                                                                                           
  3. Husnudzan terhadap sesama manusia 

    Husnudzan kepada sesama manusia adalah sikap yang selalu berpikir dan berprasangka baik kepada sesama manusia. Sikap ini ditunjukkan dengan rasa senang, berpikir positif, dan sikap hormat kepada orang lain tanpa ada rasa curiga, dengki, dan perasaan tidak senang tanpa alasan yang jelas. Berprasangka baik terhadap sesama manusia hukumnya mubah/jaiz/boleh.
    Husnudzan terhadap sesama baik berupa sikap, ucapan, dan perbuatan yang hendaknya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai berikut.
    • Tidak iri hati terhadap nikmat Allah SWT yang diterima orang lain.
    • Tidak berprasangka buruk kepada orang lain.
    • Bekerja sama dengan orang lain dalam hal kebaikan.
Baca Juga "Orang-Orang Yang Rajin Sholat Tetapi Masuk Neraka"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Al-Matin (Menjadikan Pribadi yang Tangguh) | Asmaul Husna

Pengertian Ijma' Menurut Bahasa dan Istilah

Pengertian Al-Mukmin (Menjadikan Pribadi yang Jujur) | Asmaul Husna